Kemenhut Konfirmasi Orang Utan Sempurna Mati Akibat Paparan Asap Karhutla Kalbar
Dewa Agung Wisnu 2 jam ago
dokter-memeriksa-kondisi-orang-utan-kalimantan-pongo-pygmaeus-dalam-kondisi-lemah-diduga-karena-paparan-asap-kebakaran-lahan-d-1788438782223_169
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengonfirmasi kematian seekor orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Sempurna. Satwa dilindungi tersebut sebelumnya ditemukan pingsan dan mengalami gangguan pernapasan parah yang diduga kuat dipicu oleh paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar).
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan duka cita mendalam atas kegagalan menyelamatkan nyawa satwa tersebut.
“Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa. Pemeriksaan lebih lanjut juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya,” kata Murlan, Kamis (3/9/2026) dikutip melalui Antara.
Kronologi Penemuan dan Penanganan Medis Emergency
Sempurna pertama kali ditemukan oleh warga lokal dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan serius di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Laporan awal dari masyarakat masuk sekitar pukul 07.00 WIB pada tanggal 30 Agustus 2026.
Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan dari BKSDA Kalbar dan Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) bergegas menuju lokasi untuk melakukan tindakan penyelamatan darurat.
Di lapangan, tim langsung memberikan pertolongan pertama berupa terapi oksigen serta pemberian cairan intravena guna menstabilkan kondisi fisik Sempurna. Selanjutnya, sekitar pukul 11.30 WIB, orang utan tersebut dilarikan ke pusat rehabilitasi YIARI agar mendapatkan penanganan medis secara intensif
Namun, kondisi kesehatan Sempurna terus mengalami penurunan secara drastis. Pada pukul 14.00 WIB, pola pernapasan satwa tersebut makin dangkal hingga tingkat saturasi oksigen dalam tubuhnya tidak lagi terdeteksi.
Baca juga: Prajurit Den Ipam AL 1 Dikabarkan Gugur Setelah Latihan Terjun Payung HUT Ke-80 TNI
Melihat tanda-tanda henti napas, tim dokter hewan segera mengambil tindakan resusitasi jantung dan paru (CPR). Kendati upaya terbaik telah dilakukan, Sempurna akhirnya dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB.
Hasil Nekropsi: Diduga Mengalami Hipoksia Akut Akibat Asap
Guna mengidentifikasi penyebab pasti kematian satwa ini, tim medis menggelar proses nekropsi (otopsi satwa) pada Selasa, 1 September 2026. Hasil nekropsi menunjukkan adanya kelainan serta perubahan patologis signifikan pada sejumlah organ vital, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal.
Berdasarkan analisis klinis dan temuan medis tersebut, kerusakan pada organ paru-paru diduga kuat berhubungan langsung dengan paparan asap karhutla pekat yang dihirup satwa dalam durasi tertentu. Kondisi ini memicu hipoksia akut—suatu keadaan di mana organ dan jaringan tubuh mengalami kekurangan pasokan oksigen secara ekstrem.
Gangguan fungsi paru-paru dan hipoksia akut tersebut kemudian berdampak fatal pada sistem kardiovaskular (jantung) hingga memicu kegagalan organ dan menyebabkan kematian.
Imbauan Peran Aktif Masyarakat
Atas insiden tragis ini, BKSDA Kalimantan Barat menekankan pentingnya sinergi dengan masyarakat sekitar kawasan hutan. Kesadaran warga dalam melaporkan keberadaan satwa terlindungi yang terancam dinilai sebagai kunci utama percepatan penanganan.
Murlan mengapresiasi kepekaan warga yang telah menginfokan keberadaan Sempurna sejak awal dan berharap kepekaan serupa terus ditingkatkan, terutama di tengah potensi bencana karhutla.
“Peran masyarakat sangat penting. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas,” imbau Murlan.














