
Momentum HUT Kota Metro tahun ini justru diwarnai pernyataan yang cukup mengejutkan dari Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, yang secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas belum optimalnya pelayanan infrastruktur.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Metro, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya memahami betul harapan masyarakat. Ketika warga meminta jalan diperbaiki dan drainase dibenahi, itu bukan keluhan kecil. Itu kebutuhan hidup sehari-hari,” ungkap Rafieq usai rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Metro, Selasa (09/06/2026).

Pernyataan tersebut seakan menjadi cermin bahwa di usia yang hampir sembilan dekade, Kota Metro masih dihadapkan pada persoalan klasik. Jalan berlubang masih mudah ditemukan, saluran drainase yang tidak optimal masih memicu banjir di sejumlah kawasan, sementara masyarakat terus menunggu perubahan yang nyata.
Selama bertahun-tahun, pembangunan infrastruktur selalu menjadi janji yang disampaikan dalam berbagai agenda pemerintahan. Namun kenyataannya, keluhan masyarakat mengenai jalan rusak dan drainase yang buruk masih menjadi isu yang terus berulang setiap tahun.
Wakil Wali Kota juga menegaskan bahwa pemerintah harus jujur kepada masyarakat dan tidak menutupi persoalan yang ada.
“Kalau anggaran terbatas, katakan terbatas. Kalau ada pekerjaan yang belum baik, akui belum baik. Jangan sampai masyarakat hanya diberi kata sabar, sementara jalan tetap berlubang dan drainase tetap mampet,” tegasnya.
Pernyataan tersebut dapat dimaknai sebagai kritik terhadap pola pembangunan yang selama ini dinilai belum mampu menjawab kebutuhan dasar masyarakat secara maksimal. Transparansi dan keberanian mengakui kekurangan menjadi langkah penting untuk mengembalikan kepercayaan publik.
Berdasarkan data pemerintah, dari total sekitar 413 kilometer panjang jalan di Kota Metro pada tahun 2024, masih terdapat puluhan kilometer jalan dengan kondisi rusak ringan maupun rusak berat. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan rumah di sektor infrastruktur masih cukup besar.
Di sisi lain, masyarakat menilai keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari laporan administrasi atau capaian di atas kertas, tetapi dari kondisi nyata yang mereka rasakan setiap hari.
Perayaan HUT ke-89 Kota Metro seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar seremoni tahunan. Sebab, kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari bertambahnya usia, melainkan dari sejauh mana pemerintah mampu menghadirkan rasa aman, nyaman, dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Usia 89 tahun adalah perjalanan panjang. Namun jika jalan rusak dan drainase bermasalah masih menjadi keluhan utama warga, maka masih ada pekerjaan besar yang harus segera diselesaikan agar slogan pembangunan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Kota Metro.(Dw1)















