banner 728x250

Hardiknas 2026, Wali Kota Metro Tegaskan Pendidikan Harus Memanusiakan Manusia

banner 468x60

METRO,mediamatalensa — Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, membacakan pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah pada Upacara Bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang berlangsung di halaman Kantor Wali Kota Metro, Senin (4/5/2026).

Peringatan Hardiknas tahun ini menjadi momentum untuk melakukan refleksi sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam membangun pendidikan nasional yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter dan memanusiakan manusia sesuai nilai-nilai luhur bangsa.

banner 325x300

Dalam pidato yang dibacakan Wali Kota Metro, pendidikan ditegaskan bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Lebih dari itu, pendidikan merupakan proses yang dilaksanakan dengan ketulusan, kasih sayang, serta pendampingan untuk menggali dan mengembangkan potensi setiap manusia.

“Pada hakikatnya pendidikan adalah proses yang dilaksanakan secara tulus, penuh kasih dan sayang untuk memanusiakan manusia,” demikian pesan yang disampaikan dalam pidato tersebut.

Nilai-nilai pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional juga kembali ditegaskan. Konsep sistem among yang mencakup asah atau pemberian ilmu, asih atau kasih sayang, serta asuh berupa pendampingan dan pembinaan dinilai tetap relevan dalam menjawab tantangan pendidikan saat ini.

Prinsip tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 serta Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membangun watak dan peradaban.

Pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, memiliki kepribadian kuat, serta mampu menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.

Dalam konteks pembangunan nasional, penguatan pendidikan juga menjadi bagian dari agenda besar pemerintah dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Hal tersebut selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi menuju Indonesia yang maju, makmur, dan bermartabat.

Salah satu langkah strategis yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah adalah penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Pendekatan tersebut diarahkan untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna sekaligus mendorong peserta didik mengembangkan potensi secara optimal.

Dalam pidato tersebut disebutkan, kemajuan suatu bangsa sangat berkaitan dengan kualitas pendidikannya. Karena itu, upaya memperbaiki kualitas pendidikan harus dimulai dari ruang kelas melalui proses pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

Untuk mendukung tujuan tersebut, pemerintah menetapkan lima kebijakan strategis pendidikan.

Pertama, pembangunan dan revitalisasi satuan pendidikan serta digitalisasi pembelajaran sebagai bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Hingga 2025, program tersebut telah menyasar 16.167 satuan pendidikan. Sementara itu, penggunaan papan interaktif digital telah diterapkan di lebih dari 288.000 sekolah.

Kedua, peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru. Pemerintah memberikan dukungan beasiswa sebesar Rp3 juta per semester bagi guru yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan S1 melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Program tersebut pada 2025 telah menjangkau 12.500 guru dan ditargetkan meningkat menjadi 150.000 guru pada 2026. Selain peningkatan kualifikasi, pemerintah juga memperkuat kompetensi guru melalui berbagai pelatihan, mulai dari Pembelajaran Mendalam, bimbingan konseling, koding, kecerdasan artifisial, kepemimpinan sekolah, hingga bahasa Inggris.

Peningkatan kesejahteraan guru juga dilakukan melalui penyaluran tunjangan sertifikasi secara langsung setiap bulan serta pemberian insentif bagi guru honorer.

Ketiga, penguatan karakter melalui penciptaan lingkungan sekolah yang aman, sehat, bersih, dan indah melalui konsep ASRI. Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi rumah kedua yang nyaman bagi peserta didik sekaligus ruang untuk membangun interaksi dan integrasi sosial.

Penguatan karakter juga dilakukan melalui berbagai program, di antaranya Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), Makan Bergizi Gratis (MBG), Pagi Ceria, kegiatan pramuka, pembelajaran berbasis pengalaman, serta penguatan kurikulum tersembunyi.

“Program penguatan karakter juga diwujudkan melalui Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, program Makan Bergizi Gratis, Pagi Ceria, kegiatan pramuka, hingga pembelajaran berbasis pengalaman dan kurikulum tersembunyi. Peluncuran lagu anak juga menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai kebersamaan dan toleransi,” kata Bambang saat membacakan pidato tersebut.

Keempat, peningkatan kualitas pembelajaran melalui penguatan literasi dan numerasi, pengembangan STEM, serta pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). TKA tidak hanya diposisikan sebagai alat ukur kemampuan peserta didik, tetapi juga menjadi salah satu dasar dalam menentukan intervensi untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Kelima, perluasan akses pendidikan yang inklusif dan merata. Pemerintah mengembangkan berbagai bentuk layanan pendidikan, seperti sekolah satu atap, pendidikan jarak jauh, sekolah terbuka, hingga komunitas belajar.

Layanan tersebut juga diarahkan untuk memastikan anak berkebutuhan khusus memperoleh hak pendidikan melalui penguatan sekolah inklusi dan sekolah luar biasa.

“Layanan ini juga mencakup pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus melalui penguatan sekolah inklusi dan sekolah luar biasa,” jelasnya.

Dalam 18 bulan terakhir, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah disebut telah membangun fondasi pendidikan bermutu untuk semua melalui integrasi empat pusat pendidikan, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media.

Namun, keberhasilan kebijakan pendidikan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat memberikan dampak nyata.

Pendidikan juga membutuhkan perubahan pola pikir, kekuatan mental, serta komitmen terhadap tujuan yang benar.

“Kebijakan pendidikan juga ditentukan oleh tiga hal utama, yakni mindset yang maju, mental yang kuat, dan misi yang lurus. Tanpa ketiganya, program pendidikan hanya akan menjadi formalitas tanpa dampak nyata,” tegasnya.

Melalui momentum Hardiknas 2026, Pemerintah Kota Metro diharapkan terus memperkuat kolaborasi seluruh elemen pendidikan untuk menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas, inklusif, aman, dan mampu mengembangkan potensi peserta didik.

Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk generasi berkarakter, mandiri, dan memiliki daya saing menuju Indonesia yang maju dan bermartabat.(ADV)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *